Jumat, 25 November 2011
Kamis, 17 November 2011
Radovic si Gila Bola Mati
Radovic seorang pemain persib Bandung,dia diposisikan di gelandang serang dia sangat di populerkan oleh masyarakat Jawa Barat,dia berasal dari montenegro.
Radovic do kontrak persib sejak putaran kedua Indonesia Super Leage( ISL),Radovic memiliki tendangan yang spektakuler dengan bola-bola yang mematikan dan umpan yang terukur,Radovic dipertahankan persib untuk musim 2011-2012.
Perseteruan Antara Chelsea karena Kucuran Dana dan Trofi
Artikel Bola memberitakan perseteruan antara Chelsea karena kucuran dana dan Trofi yang didapatkan oleh Chelsea. Rivalitas keduanya tidaklah permanent, keduanya berkembang sesuai perjalanan waktu. Tak terkecuali di sepak bola. Salah satunya tentu saja rivalitas antara Arsenal dan Chelsea. Meski sama-sama berasal dari London, kedua klub tidak pernah terlibat perseteruan dahsyat. Salah satunya karena mereka selalu berada dalam kasta berbeda, ketika Arsenal menjulang, Chelsea hanyalah klub semenjana. Semuanya berubah ketika the Blues tiba-tiba saja masuk ke kelompok elite di Premier League dan eropa pada decade 2000 an. Apalagi ketika Chelsea pada musim 2004-05 memutus dominasi Manchester United dan Arsenal yang bergantian juara selama sembilan musim. Hal yang menyesakkan bagi Arsenal, tentu saja fakta bahwa sodokan Chelsea justru menjadi penanda akhir kejayaan mereka.Sejak 2003-04, Arsenal hanya mampu merebut satu trofi sementara Chelsea mengumpulkan delapan piala.
Kubu Arsenal makin tersinggung karena Chelsea terkesan membeli prestasi. Tak bisa disangkal, kebangkitan The Blues memang sangat terpengaruh oleh totalitas sang pemilik, Roman Abramovic, yang tak henti mengucurkan uangnya demi mendatangkan para bintang dan pelatih berkualitas. Percikan hebat terjadi pada awal musim 2006-07. ketika The Blues membajak bek kiri Ashley Cole dari The Gunners dengan cara yang dinilai kurang ajar. Para fans Arsenal pun tersulut. Buktinya dalam survey yan dilakukan foot ball Fan Census pada medio 2009, The Blues sudah diposisikan sebagai rival utama bersama Tottenham Hotspur.
Sesuai survey itu, Chelsea dan Tottenham mendapatkan 32 persen suara masing masing. Sementara Manchester United hanya menjadi rival ketiga dengan hanya 15 persen suara. Menariknya, para fans Chelsea tak menilai The Gunners sebagai rival. Faktanya, mereka lebih membenci Liverpool (52%), Manchester United (16%), dan Tottenham (10%). Para pemain Chelsea pun punya pandangan sama. Tak percaya? Simak saja pernyataan kapten John Terry saat musim ini akan bergulir. Dia sama sekali tak menyinggung Arsenal sebagai rival dalam perebutan gelar. “Aku cemas terhadap komposisi tim musim ini. Semua tim melakukan penguatan. Manchester United dan Manchester City telah mendatangkan beberapa pemain bagus. Demikian pula dengan Liverpool, “ungkap dia. Itu jelas menyulut amarah The Gunners, “Klub seperti Man. City mengubah filosofi mereka setiap tahunnya dan Chelsea membelanjakan uang 80 juta euro. Mereka terlalu berkoar sebelum musim berjalan. Mereka mengira Arsenal tak akan berdaya. Padahal, kami masih ebrada di depan mereka!” tandas striker Robin Van Persie.
Sika sengit pemain dan fans Arsenal itu tak terlepas dari fakta bahwa roda telah terbalik. Jika dulu Chelsea selalu berada di belakang Arsenal, kini justru sebaliknya. Tak perlu jauh mencari bukti. Tengok saja peringkat kedua klub sejak 2004-05 tak pernah sekali pun The Gunners finis di atas The Blues.
Itu jelas menjengkelkan. Apalagi komposisi pemain The Gunners nyata-nyata kalah dari The Blues. Meski mengucurkan dana 61,6 juta euro di bursa transfer berkat perubahan kebijakan yang dibuat Stan Kroenke, sang pemegang saham mayoritas, kualitas pemain yang diangkut tidak setara dengan bintang yang pergi. Padahal jumlah itu adalah rekor tersendiri. Sebelumnya, belanja terbesar The Gunners adalah pada tahun 2001-02 dengan dana 50 juta euro. Itu berbeda dengan The Blues yang sanggup mendatangkan pemain berkualitas tinggi macam Juan mata dan Romelu Lukaku lewat investasi bernilai 81 juta euro di bursa transfer lalu. Ditambah tak adanya pemain pilar yang hengkang, The Blues jelas jadi lebih kuat.
Fernando Torres Gantikan Posisi Didier Drogba
Artikel Bola kali ini tentang Fernando Torres yang menggantikan posisi Didier Drogba mungkin akan segera terealisasi. Saat menjalani Derby London versus Arsenal sabtu esok, ada satu sosok yang kehadirannya dirindukan kubu Chelsea. Dia tidak lain adalah Didier Drogba yang selama ini kerap menghadirkan mimpi buruk bagi The Gunners. Selama memperkuat Chelsea sejak tahun 2004-05, Drogba mampu membawa tim nya mendominasi pertemuan melawan Arsenal. The Blues mampu meraih 10 kemenangan, tiga kali seri dan hanya sekali menderita kekalahan pada laga di kompetisi resmi. Drogba juga berhasil membobol gawang the Gunners sebanyak 13 kali dan setiap kali striker asal Pantai gading itu mencetak gol, dijamin The Blues pasti meraih hasil maksimal alias kemenangan.
Sayangnya, pada Derby Loncon kali ini, public Stamford Bridge harus kehilangan jokernya. Drogba terpaksa absent karena terkena skorsing. Ketika Chelsea takluk dari Queens Park Rangers pekak lalu, dia terkena kartu merah setelah melakukan tackle berbahaya kea rah pemain lawan. Kubu Chelsea jelas kesal dengan putusan wasit yang gapang mengeluarkan kartu. Selain Drogba, juga harus kehilangan Jose Bosingwa yang juga dikartu merah pada laga tersebut.
Sayangnya, pada Derby Loncon kali ini, public Stamford Bridge harus kehilangan jokernya. Drogba terpaksa absent karena terkena skorsing. Ketika Chelsea takluk dari Queens Park Rangers pekak lalu, dia terkena kartu merah setelah melakukan tackle berbahaya kea rah pemain lawan. Kubu Chelsea jelas kesal dengan putusan wasit yang gapang mengeluarkan kartu. Selain Drogba, juga harus kehilangan Jose Bosingwa yang juga dikartu merah pada laga tersebut.
“Ini kali ketiga kami dirugikan oleh wasit. Beberapa kali wasit memengaruhi hasil pertandingan. Kami jelas kecewa dengan kepemimpinan Chris Foy,” rutuk Andre Villas Boas, manajer Chelsea. Absenya Didier Drogba membuat Chelsea emmerlukan kartu truf baru. Pilihan agaknya bakaljatuh ke Fernando Torres. Ketimbang pemain lain, dia merupakan pilihan paling realistis. Setidaknya, Torres memiliki beberapa modal untuk menggantikan peran Drogba. Yang pertama adalah pengalaman menghadapi Arsenal, sejak bermain di Premier League pada 2007-08 bersama Liverpool, dia sudah tujuh kali bersua dengan The Gunners. Dia pun belakangan ini menunjukkan grafik meningkat. Setelah sempat mampet, keran gol Torres mulai mengalir. Itu dibuktikan dengan dua gol yang dibuatnya ke gawang KRC Genk pada ajang Liga Champion tengah pekan lalu.
“Sangat penting bagi pemain untuk merasa percaya diri, dan dia terlihat percaya diri dengan kemampuannya. Dia selalu berada dalam performa terbaik, Fernando melakukan tugasnya dengan baik, tapi kami ingin bermain secara kolektif,” ujar Villas Boas usai laga versus Genk.
Pulihnya performa Torres tidak lepas dari beban yang mulai berkurang. Saat datang ke Chelsea, public menaruh harapan besar kepadanya untuk bisa mencetak banyak gol seperti di Liverpool. Ditambah lagi, sorotan ang besar akibat banderol pembelian yang tinggi. Ini membuat Torres mendapat pengawalan ekstra dari defender lawan. Sisi prikologis Torres juga jelas kena imbasnya. Kini, dengan pengalihan peran dimana dia tidak hanya diwajibkan mencetak gol, Torres bisa bermain lebih lepas. Meski tidak banyak memberi kontribusi gol, dia sering menciptakan peluang bagi rekan-rekannya.
“Kami senang memiliki dia di lapangan. Bahkan ketika tidak mencetak gol, dia memberi assist dan tetap bermain baik untuk tim yang sangat penting bagi kami,”puji defender Branislav Ivanovic. Hal ini membuat kubu Arsenal mesti waspada. Jika selama ini defender The Gunners terbiasa menghadapi Drogba. Kali ini harus menghadapi lawan yang memiliki karakter yang berbeda. Permainan Torres yang menunjang kolektifitas tim akan membuat permainan Chelsea lebih berbahaya di lapangan.
Posted by Admin - at 5:12 pm
Cladio Ranieri Dibakar Kenangan Lama Kontra Juventus
Artikel Bola yang memberitakan tentang Cladio Ranieri yang diibakar kenangan lama kontra Juventus, ini bisa disebut juga sebagai ajang pembalasan dendam oleh Pelatih Inter Milan tersebut. Sosok Cladio Ranieri akan menjadi figure sentral di laga Inter Milan versus Juventus. Pria berumur 60 tahun itu dipastikan hafal dengan gaya permainan I Bianconeri. Maklum empat musim lalu dia pernah dipercaya melatih Allesandro Del Piero cs. The Tinkerman, julukan Cladio Ranieri menjadi pelatih Juventus sejak musim 2007-07 sampai pekan ke 36 musim 2008-09. Dia kemudian dipecat dan digantikan oleh pelatih tim junior Juventus saat itu. Ciro Ferrara. “Dia dielngserkan karena tim tak begitu bermain bagus,” sebut Jean Claude Blanc, General Manager Juventus waktu itu. Benarkah Cladio Ranieri gagal total? Sejatinya tidak, tengok saja dari pekan ke 14 sampai dengan pekan ke 32 musim 2009-10, Cladio Ranieri sukses membawa I Bianconeri bertengger di peringkat ke dua. Dua pekan berikutnya posisi Juventus memang turun. Tapi hanya satu peringkat. Mereka masih bisa bersaing di zona Liga Champions. Meski begitu, manajemen I Bianconeri tetap menganggap gagal.
Cladio Ranieri mengaku bahwa menjelang pemecatan dirinya sikap manajemen Juventus memang telah berubah total. “Ketika saya di Juventus target scudetto baru akan diberikan pada musim kelima. Musim pertama, saya cukup bagus. Tapi pada musim kedua kurang memuaskan. Akhirnya semua jadi berubah,”beber Cladio Ranieri. Alhasil, Cladio Ranieri merasa bahwa pemecatan dirinya memang telah diseting sejak awal.
Kiper Juventus Gianluigi Buffon bercerita bahwa dua laga pamungkas Juventus pada 2008-09 sudah tidak ditangani Cladio Ranieri. Tapi kipper timnas itu meyakini, kesuksesan merebut tiket Liga Champion pada musim tersebut tak bisa dilepaskan dari kontribusi Cladio Ranieri. “Pencapaian akhir musim berkat jasa Cladio Ranieri dan semua stafnya.”ungkap Buffon. Meski hanya dua musim saja melatih Juventus, sudah cukup buat Cladio Ranieri untuk mengenal karakter calon lawannya di Derbi d’Italiano kali ini. Menurut Cladio Ranieri, standar I Bianconeri selalu tinggi. “Ketika kami ada di Juventus, anda tidak hanya diharapkan untuk menjuarai sebuah kompetisi tapi anda akan selalu dituntut untuk memenangi setiap pertandingan,” ujarnya.
Sekalipun sudah tak lagi menukangi Juventus, Cladio Ranieri masih paham dengan karakter tim tersebut. Apalagi, saat ini masih ada beberapa mantan anak didiknya yang menjadi pemain inti dalam racikan pelatih baru Juventus yaitu Antonio Conte, diantaranya adalah Gianluigi Buffon, Giorgio Chiellini, Paolo De Ceglie, Claudio Marchisio, atau Alessandro Del Piero. Bahkan empat dianatranya adalah menjadi andalan Conte mereka adalah : Buffon, Chiellini, De Ceglie dan Marchisio.
Oleh karena itulah, Cladio Ranieri sama sekali tidak gentar dalam menatap Derby d’Italiano yang akan digelar pada akhir pekan ini. Baginya, Juventus hanya merupakan sebagian kecil dari referensinya saat melatih sebuah tim. Berdasarkan pengalamannya yang sudah pernah melatih 12 klub professional, Inter tetap lebih bagus disbanding tim manapun di serie A Italia saat ini. Walau saat ini Inter tengah terpuruk, Cladio Ranieri yakin Inter bisa kembali melejit ke papan atas. Bahkan kans merih scudetto tetap terbuka lebar.
Posted by Admin - November 1, 2011 at 5:18 pm
Langganan:
Komentar (Atom)
